Popular Post

Posted by : Unknown 06/06/13


Nama        : Muhammad iqbal
Nim           : F04112048
Kelas         : C
Reguler     : A
 
 
 
Soal
1.       Mengapa tuhan menciptakan manusia
Bagaimana proses tuhan menciptakan manusia
2.       Apakah tuhan itu maha adil atau maha berkehendak
Jelaskan dan kemukakan alas an-alasannya
3.       Apakah perbedaan persamaan dan perbedaan takdir dan nasib
4.       Mengapa manusia beradap dan beragama , dan mengapa anda beragama islam
5.       Mengapa tuhan menciptakan manusia lebih sempurna dari makhluk lain
6.       Apakah tujuan allah menurunkan wahyu dan mengutus rasul kepada umat manusia ?
 
Jawaban:
1.       Pada pandangan orang beriman manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat disisi tuhan yang diciptakan dalam bentuk yang amat baik.
Sesudah ditiupkan ruh kedalam tubuhnya , para malikat disuruh sujud(member hormat) kepadanya. Allah memberi manusia ilmu pengetahuan dan kemauan, dijadikan khalifah (penguasa) di bumi, serta menjadi pusat pelaku kegiatan di ala mini. Segala apa yang dilangit dan dibumi bekerja untuk kepantingan manusia dan kepadanya diberikan hikmah lahir dan batin.
Kesimpulannya, apa yang ada dialam ini adalah berhidmat kepada manusia dan diciptakan manusia untuk berhikmat kepada tuhan. Allah Swt menjelaskan dalam Q.S. Al-baqorah (2) : 29;
 
Dialah Allah yang telah menciptakan segala yang ada dibumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) menciptakan langit lalu disempurnakan-Nya tujuh langit. Dan dia Mengetahui Segala sesuatu.
 
Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) : 56 ;
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
 
…………………
Disebut secara jelas dalam Al Baqarah ayat 30, kita tahu bahwa keberadaan manusia di muka bumi bukanlah sebuah kecelakaan melainkan memag sengaja Allah menciptakan manusia di bumi (di dunia ini) sebagai makhluk yang dimuliakan dan dipercaya sebagai pengemban amanah dengan sebutan “Khalifah fil Ardli” (khalifah di muka bumi)
 
Selain penjelasan dari suart Al Baqaroh ada juga surat lain seprti di bawah ini
Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir`aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu. (Al A’raaf 129)
Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). (An Naml 62)
 
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad 26)
 
Proses terjadinya manusia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. ” (Al Mukminun : 12-14)
Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi … . ” (Al Hajj : 5)
Ayat-ayat di atas menerangkan tahap-tahap penciptaan manusia dari suatu keadaan kepada keadaan lain, yang menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan-Nya sehingga Dia Jalla wa ‘Alaa saja yang berhak untuk diibadahi.
Begitu pula penggambaran penciptaan Adam ‘Alaihis Salam yang Dia ciptakan dari suatu saripati yang berasal dari tanah berwarna hitam yang berbau busuk dan diberi bentuk.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. ” (Al Hijr : 26)
Tanah tersebut diambil dari seluruh bagiannya, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam (sepenuh telapak tangan) tanah yang diambil dari seluruh bagiannya. Maka datanglah anak Adam (memenuhi penjuru bumi dengan beragam warna kulit dan tabiat). Di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara yang demikian. Di antara mereka ada yang bertabiat lembut, dan ada pula yang keras, ada yang berperangai buruk (kafir) dan ada yang baik (Mukmin). ” (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi, berkata Tirmidzi : ‘Hasan shahih’. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi juz 3 hadits 2355 dan Shahih Sunan Abu Daud juz 3 hadits 3925)
Semoga Allah merahmati orang yang berkata dalam bait syi’irnya :
Diciptakan manusia dari saripati yang berbau busuk.
Dan ke saripati itulah semua manusia akan kembali.
Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam ‘Alaihis Salam dari tanah. Dia ciptakan pula Hawa ‘Alaihas Salam dari Adam, sebagaimana firman-Nya :
“Dia menciptakan kamu dari seorang diri, kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya … . ” (Az Zumar : 6)
Dalam ayat lain :
Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya … . ” (Al A’raf : 189)
Dari Adam dan Hawa ‘Alaihimas Salam inilah terlahir anak-anak manusia di muka bumi dan berketurunan dari air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan hingga hari kiamat nanti. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 457)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani). ” (As Sajdah : 7-8)
Jawab  2            
Mnusai di ciptakan untuk menjdi kholifah dan beribadah kepada Allah
Dalam Surat Adz Dzariyat ayat 56 Allah berfirman:
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
 
Sebagian orang menanyakan, “Jadi sebenarnya manusia itu diciptakan untuk beribadah atau untuk mengemban amanah sebagai khalifah sebagaimana uraian di atas?”
 
Tidak terlalu sulit menggabungkan dua informasi tersebut ke dalam sebuah pengertian yang mencakup keduanya.
 
Ibadah kepada Allah adalah kewajiban baik bagi Jin maupun Manusia. Tetapi misi untuk memakmurkan bumi hanya manusia yang diberi amanah, sedangkan jin tidak.
Artinya selain dimintai pertanggungjawaban mengenai ibadah khususnya kepada Allah manusia juga ditanya mengenai apa yang telah diperbuatnya sehubungan dengan kemaslahatan maupun kumudharatan di muka bumi.
 
Demikian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan tidak sia sia:
Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. (al anbiya 16)
 
Proses terjadinya manusia
 
Imam Thabari rahimahullah dan selainnya mengatakan bahwa diciptakan anak Adam dari mani Adam dan Adam sendiri diciptakan dari tanah. (Lihat Tafsir Ath Thabari juz 9 halaman 202) Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan nuthfah (yakni air mani yang terpancar dari laki-laki dan perempuan dan bertemu ketika terjadi jima’) dalam rahim seorang ibu sampai waktu tertentu.
Dia Yang Maha Kuasa menjadikan rahim itu sebagai tempat yang aman dan kokoh untuk menyimpan calon manusia. Dia nyatakan dalam firman-Nya :
Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu yang ditentukan. ” (Al Mursalat : 20-22)
Dari nuthfah, Allah jadikan ‘alaqah yakni segumpal darah beku yang bergantung di dinding rahim. Dari ‘alaqah menjadi mudhghah yakni sepotong daging kecil yang belum memiliki bentuk. Setelah itu dari sepotong daging bakal anak manusia tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian membentuknya memiliki kepala, dua tangan, dua kaki dengan tulang-tulang dan urat-uratnya. Lalu Dia menciptakan daging untuk menyelubungi tulang-tulang tersebut agar menjadi kokoh dan kuat. Ditiupkanlah ruh, lalu bergeraklah makhluk tersebut menjadi makhluk baru yang dapat melihat, mendengar, dan meraba. (Bisa dilihat keterangan tentang hal ini dalam kitab-kitab tafsir, antara lain dalam Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain)
Demikianlah kemahakuasaan Rabb Pencipta segala sesuatu, sungguh dapat mengundang kekaguman dan ketakjuban manusia yang mau menggunakan akal sehatnya. Semoga Allah meridhai ‘Umar Ibnul Khaththab, ketika turun awal ayat di atas (tentang penciptaan manusia) terucap dari lisannya pujian :
“Fatabarakallahu ahsanul khaliqin”
Maha Suci Allah, Pencipa Yang Paling Baik
Sekarang kita lihat keterangan tentang kejadian manusia dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Abi ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :
Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan beliau adalah yang selalu benar (jujur) dan dibenarkan. Beliau bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang Malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezkinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada illah selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli Surga sehingga tidak ada di antara dia dan Surga melainkan hanya tinggal sehasta, maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga ia memasukinya. Dan sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka melainkan hanya tinggal sehasta. Maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli Surga sehingga ia memasukinya. ” (HR. Bukhari 6/303 -Fathul Bari dan Muslim 2643, shahih)
Berita Nubuwwah di atas mengabarkan bahwa proses perubahan janin anak manusia berlangsung  120 hari dalam tiga bentuk yang tiap-tiap bentuk berlangsung selama 40 hari. Yakni 40 hari pertama sebagai nuthfah, 40 hari kedua dalam bentuk segumpal darah, dan 40 hari ketiga dalam bentuk segumpal daging. Setelah berlalu 120 hari, Allah perintahkan seorang Malaikat untuk meniupkan ruh dan menuliskan untuknya 4 perkara di atas.
 
……………………………
Allah maha adil lagi maha berkehendak alasan Allah maha adil
Allah itu adil. setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa dimilikinya. orang yang memiliki mata akan ditanya digunakan untuk apa matanya itu, orang yang punya kekuasaan akan ditanya digunakan untuk apa kekuasaannya itu, dst. Jangankan itu pernahkah kita berpikir adilkah tuhan menciptakan makhluk lain untuk tunduk pada kita seperti sapi, kerbau, kambing, dll untuk kita makan atau untuk kita suruh menggarap sawah lalu Ia (Allah) memberikan rizki kepada mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari rizki kita terima. Tentu tidak adil bukan. Tapi kelak di akhirat banyak orang yang iri dengan nasib para binatang tersebut karena mereka semua jadi debu sedangkan kebanyakan dari kita masuk ke neraka karena tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita punya.

Lagipula ada hikmah di balik penciptaan orang2 cacat tersebut. Karena mereka jugalah banyak kebaikan yang tercipta. Bayangkan jika setiap orang diciptakan sempurna dan tidak ada orang yang kekurangan baik secara jasmani atau materi, maka tiap orang akan memikirkan dirinya sendiri. karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang orang lain. Sehingga hal-hal seperti kedermawanan, empati, kepedulian terhadap sesama, kerjasama, tolong-menolong, dsb yang ada saat ini akan hilang. Allah menciptakan orang cacat karena Ia ingin kita menolong mereka. Allah ingin menciptakan kebaikan melalui kita.
Dan Allah maha berkehendak
egala sesuatu tidak dapat terjadi kecuali atas kehendak dan izin Allah. Apapun keinginan manusia, sama sekali tidak dapat direalisasikan, apabila Allah tidak menghendaki dan tidak mengizinkannya.

Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.   (Q.S 81:29)

Jauh sebelum manusia terlahir ke dunia, Allah yang Maha Tahu sudah mengetahui seluruh Qadha dan Qadar bagi manusia tersebut. Apakah akhirnya manusia ini akan masuk ke dalam sorga Nya ataukah ke dalam neraka Nya, tentu Allah sudah mengetahuinya dengan pasti. Tetapi manusia tidak mengetahui tentang bagaimana nasibnya kelak. Jika seorang manusia mengetahui bahwa ia akan berakhir di dalam neraka, dan dapat memilih, tentu ia memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia, bahkan menyesali kenapa dia diciptakan. Dan seandainya seorang manusia memili pengetahuan yang benar tentang Qadha dan Qadarnya di masa depan, itu sama sekali tidak mengubah keharusannya dalam berikhtiyar. Karena ikhtiyar menjadi sarana bagi tercapainya suatu ketetapan di masa depan.

Dihadapan Yang Maha Kuasa, manusia tidak memiliki daya upaya. Ketetapan Ilahi harus terjadi, apakah ia menyukainya atau tidak menyukainya. Manusia seakan wayang yang digerakan oleh dalang, ada yang dijadikannya tokoh yang jahat, dan ada yang dijadikannya tokoh yang baik. Kalau begitu, apa artinya ikhtiyar? Ikhtiyar dan kehendak untuk ikhtiyar pun terjadi atas kehendak dan izin Allah yang Maha Kuasa. Apakah ini keyakinan yang benar? Sementara Allah tidak bersifat dzalim kepada hambaNya. Apakah siksa akan ditimpakan kepada seorang hamba, padahal hamba itu tidak memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan perbuatannya sendiri?

Ada orang yang menghendaki dan memilih jalan kebaikan. Ada pula orang yang menghendaki dan memilih jalan keburukan. Semua itu tidak dapat terjadi, kecuali atas kehendak Allah dan izin Nya. Lalu jika ada manusia yang jahat, mengapa ia berdosa? Padahal jika Allah tidak menghendaki orang itu menjadi manusia jahat, tentunya orang itu tidak akan mampu menjadi jahat. Hal ini seringkali menjadi bab bagi kaum atheisme dan anti Islam untuk mempersalahkan ajaran Islam. Mereka berkata, “Allah umat Islam adalah yang membuat manusia tersesat, sebagaimana yang tercatat dalam al Quran :

Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada Nya", (Q.S 13:27) 
jawab 2
Allah jelas maha adi, adil di sini bukan berarti harus selalu sama , Allah membagikan rezki kepada mahlukya tidak lah sama itu sesuai kemampuan yang di miliki mahlukya, agar manusia dapat bersyukur atas apa yang di berikan Allah kepada umatnya tersebut, Allah juga memberikan tangan yang tak lengkap bagi sebagian orang agar orang yang lengkap anggota badanya dapat mensyukuri nikmat yang di berikan kepadanya,
Allah juga maha berkehendak ,
Allha berkehendak kepada setiap mahklukNya, apabila Allah mengginkan mahkluknya untuk taat kepada Allha maka taatlah dia dan apabila Allah menginkan untuk sesat maka sesatlah dia, dalam al Quran telah di jelasan yang artinya
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada Nya", (Q.S 13:27) 
 Dan juga di perjelas l;agi pada ayatlain dalam al Quran yang artinya
Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.   (Q.S 81:29)
ini membuktiakn tanpa kehendak Allah semua itu tidaklah mungkin terjadi, semua kejadian di muka bumi ini dan alam semesta karena kehendak Allah semata.
 
………………………………..
Tujuan Allah menurunkan Wahyu dan mengutus Rasul Kepada umat manusia
Seorang rasul tidak hanya bertugas menyampaikan risalah ilahi, tetapi berkewajiban juga berkewajiban untuk menyampaikan bimbingan dan contoh teladan bagi umatnya. Oleh karena itulah, mengapa rasul yang dipilih Allah adalah seorang manusia.
Q.S Al anbiyaa’(21):7,
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
Fungsi Rosul adalah menyampaikan ajaran agama kepada manusia dan untuk melakukan pembangunan system nilai ilahi ditengah kehidupan manusia, meskipun juga dalam penyampaian wahyu.

Oleh : Muhammad Iqbal

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Islami of Matematika - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -